Minggu, 02 Juli 2017

Siapa Aku?

Assalamu'aikum calon penghuni Surganya Allah :)
Alhamdulillah setelah beberapa waktu ga ngeposting apa-apa, akhirnya malam ini ngeposting juga hihihi. Di bawah ini adalah essay yang aku buat untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Sosial, ini deskripsi tentang kehidupanku sampai detik ini yang aku rangkumkan dalam 10 halaman microsoft word ukuran A4 dengan margin 3 3 3 4, justify, spacy 1,5 :) maafkan kalau isi ceritanya agak ga jelas, karena emang kemaren bingung nulis apa biar pas 10 halaman sesuai perintah dosennya :') sekali lagi maafkan..
selamat membaca!



SIAPA AKU

Perkenalkan nama saya Rima Nur Anjani, biasa dipanggil Rima atau Ima. Saya lahir di Banjarmasin, 30 April 1998. Saya dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang oleh kedua orangtua saya yang biasa saya panggil Ummi dan Baba, beserta satu orang adik laki-laki saya yang berumur 2,5 tahun yang masih lucu dan menggemaskan bernama Ra’id Shabaz Al Hanif atau yang biasa saya panggil Shabaz. Saya dan adik saya memang terlampau jauh usianya, dia lahir pada saat saya duduk di bangku kelas 2 SMA tepatny saat berumur 16 tahun. Jadi, jangan heran jika saat berjalan-jalan di luar rumah banyak yang mengira kalau saya adalah ibunya Raid, padahal saya adalah kakanya (hahaha). Ntah karena apa orang-orang banyak yang mengira begitu, mungkin karena saya yang terlihat tua atau memang karena sekarang zamannya banyak anak muda yang menikah di usia muda & punya anak. Ntahlah, saya tidak tau.
            Sejak kecil Ummi dan Baba sudah menanamkan minat baca yang tinggi pada anak-anaknya. Sejak saya berumur 3 tahun, Ummi sudah sangat rajin membelikan buku atau majalah anak-anak seperti Bobo, Asuh dan Mombi. Biasanya setiap malam sebelum tidur Baba selalu membacakan cerita-cerita atau dongeng yang ada di majalah maupun buku yang dibelikan Ummi. Mungkin karena didukung oleh didikan orangtua saya tersebut sampai sekarang hobi saya adalah membaca dan mengoleksi buku. Buku yang saya miliki pun cukup banyak. Saya suka membaca semua genre buku, tetapi yang paling saya suka adalah novel Sherlock Holmes dan Sabtu Bersama Bapak. Saya juga suka sekali dengan puisi. Puisi yang paling saya suka adalah puisi yang berjudul “Aku Ingin” karya sastrawan legendaris Indonesia, Sapardi Djoko Damono.
            Selain membaca dan mengoleksi buku, hobi saya yang lainnya adalah memasak. Mungkin karena ummi dan nenek saya adalah seorang pedagang makanan, dari kecil saya sangat suka melihat mereka berada di dapur dan saya juga ikut mereka mencampur baurkan rempah-rempah di atas panci hingga menjadi masakan yang lezat. Saya suka memasak apapun, tapi yang paling sangat suka adalah memasak ayam katsu dan ayam asam manis, dari berbagai banyak masakan yang saya masak, masakan itulah yang paling banyak mendapatkan acungan jempol dari sanak keluarga maupun teman-teman saya. Sempat terbesit dalam hati saya agar suatu hari nanti saya mendirikan sebuah restoran dan menjadi juru masak di restoran sendiri (semoga jadi kenyataan, aamiin). Biasanya jika suasana hati saya sedang tidak menentu atau sedang badmood, hal pertama yang saya lakukan adalah pergi ke dapur dan memasak. Memasak adalah moodbooster saya. Jadi, kalau nanti kamu melihat saya sedang badmood ajak aja saya masak, inshaa Allah mood saya akan kembali ceria lagi (hehehe).
            Pada essay ini, saya akan menceritakan tentang masa-masa sekolah yang pernah saya tempuh, mulai dari SD, SMP dan SMA, serta masa yang sedang saya lalui sekarang yaitu masa perkuliahan.
            Pertama, masa SD (sekolah dasar). Masa-masa sekolah dasar selama 6 tahun, saya habiskan di SDN Belitung Selatan 4 Banjarmasin. Tepatnya dibelakang Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin. Menurut orangtua dan guru-guru saya, saya termasuk siswa yang cepat dalam proses perkembangan kognitif. Terbukti dari cepatnya saya dalam belajar membaca, menulis maupun menggambar. Alhamdulillah, dari kelas 1 hingga kelas 6 saya selalu menduduki peringkat 3 besar di kelas. Saya juga termasuk siswa yang aktif dalam kegiatan sekolah, seperti menjadi anggota Pramuka, pengibar bendera dan intruktur senam setiap hari Jum’at.  Jarak antara rumah dan sekolah saya cukup dekat, sehingga biasanya saya ke sekolah menggunakan sepeda atau di antar Baba paginya dan saat pulang jalan kaki bersama teman-teman. Sejak kecil saya sangat suka bersosialisasi dan menemukan teman baru, tak heran saat SD teman yang saya kenal tak hanya di sekolah saya saja, tetapi juga sekolah-sekolah lain yang berada dekat dengan sekolah saya.
            Kedua,  masa SMP (sekolah menengah pertama). Alhamdulillah saya lulus SD dengan nilai rapot yang menurut saya sangat memuaskan dan NIM yang memuaskan juga. Pada masa awal kelulusan dari SD, saya mengalami pertengkaran kecil dengan ummi dan baba yang meributkan tentang SMP mana yang akan saya pilih. Dengan NIM yang cukup baik yaitu 26,30, saya merasa saya bisa masuk di hampir seluruh SMP di Kota Banjarmasin (mulai takabur). Awalnya saya sangat kekeh untuk bersekolah di SMPN 9 Banjarmasin, dengan alasan karena banyak teman-teman saya yang bersekolah disana dan saya tidak mau berpisah dengan teman-teman saya waktu SD dulu (maklum masih anak kecil, pikiran labil). Tapi, ummi dan baba juga kekeh ingin menyekolahkan saya di SMPN 2 Banjarmasin yang termasuk SMP favorit di Kota Banjarmasin. Diiringi dengan adu argumen dan tangisan, akhirnya berkat sholat istikharah ‘pertama’ yang saya lakukan, Alhamdulillah Allah memberikan petunjukNya serta membuka hati saya, dan pilihan sekolah yang akan saya masuki jatuh pada  SMPN 2 Banjarmasin. Dan id, ego serta superego pun selaras.
Saat menjadi siswa SMP teman saya juga cukup banyak. Mungkin karena sifat saya yang mudah bergaul dan aktif di kelas, di awal masa persekolahan saya sudah cukup dikenal di antara teman-teman maupun kaka kelas saya.
            Di masa ini juga saya terkena virus “merah jambu”. Untuk pertama kalinya, saya pacaran. Tapi saya pacaran bukan dengan teman satu sekolah saya, melainkan dengan teman komplek saya yang kebetulan sekolahnya bersampingan dengan sekolah saya. Hari demi hari yang kami lakukan adalah backstreet, karena kalau kedua orangtua kami tau, itu akan menjadi masalah yang amat sangat besar (Plis ini jangan ditiru ya:( ). Terlebih dari didikan di keluarga saya yang saya rasakan cukup ‘religius’ saya sangat di larang untuk pacar-pacaran. Tapi apalah daya saya, karena dorongan id dan bisikan setan yang terlalu besar pada masa itu saya tetap juga berpacaran. Dan Id mengalahkan Superego.
            Menurut saya, masa SMP ini adalah masa paling suram dalam kehidupan saya. Karena di masa inilah saya merasakan bagaimana rasanya di bully, di intimidasi, dikucilkan di lingkungan pertemanan saya. Menurut saya, alasan cuman satu, karena mereka iri. Pertama, iri karena banyak teman laki-laki yang mendekati saya (ini saya serius loh ya, bukannya sombong atau kepedean tapi ini seriusan wkwk), yang kedua, iri karena biasanya saya yang dipilih sekolah untuk menjadi perwakilan di beberapa perlombaan seperti olimpiade-olimpiade, pengakuan ini saya dapatkan dari teman saya waktu SMP yang akhirnya menceritakan kenapa mereka dulu menjauhi dan membully saya.
Sejak SMP ini juga lah saya belajar berorganisasi. Sebenarnya organisasi yang saya ikuti hanya 2, yaitu TIM CC (Cerdas Cermat) dan musik tradisional. Tetapi yang paling aktif adalah di TIM CC. Saya juga bukan anggota OSIS, tetapi banyak guru dan teman-teman saya yang mengajak saya untuk ikut serta dalam mengurus berbagai acara. Saya juga sering menjadi MC di acara formal maupun non formal. Mungkin karena kemampuan saya dalam berbicara di depan umum ini jugalah, pihak sekolah sering memilih saya untuk menjadi delegasi dalam berbagai acara penting, seperti diskusi pelajar bersama walikota dan gubernur, dll. Di masa ini saya mendapatkan begitu banyak pelajaran dan pengalaman, yang membuat saya kedepannya semakin berusaha untuk menjadi sosok yang lebih baik. Dan akhirnya, ego menyelaraskan id dan superego.
            Ketiga, masa SMA (sekolah menengah atas). Setelah lulus dengan nilai ya... gak jelek-jelek banget juga dan berbekal pengalaman dulu saat memilih SMP, hal yang juga saya lakukan saat memilih SMA yaitu dengan meminta restu orangtua dan sholat istikharah. Ntah kenapa saat lulus SMP saya tidak begitu tertarik untuk melanjutkan sekolah di SMA yang berada di dalam lingkungan pelajar “Mulawarman Banjarmasin”. Hingga akhirnya keputusan terbaik jatuh pada SMAN 6 Banjarmain atau yang sering di sebut Smasix yang berada di Jalan Belitung Banjarmasin dan sangat dekat dengan rumah saya, kurang lebih 5 menit waktunya untuk sampai ke smasix.
            Menurut saya masa kejayaan saya ada saat di SMA ini. Sehabis banyaknya pelajaran yang saya dapatkan di SMP, saya mulai mengasah diri dan potensi saya. Saya amat fokus dalam pengembangan diri saya, saya tidak peduli lagi dengan omongan oranglain tentang saya, saya juga tidak terlalu memfokuskan diri ke hal-hal yang berbau pacaran, ya walaupun pada akhirnya saat semester 2 saya kembali berpacaran dengan salah satu teman SMP saya dulu yang kebetulan bersekolah di smasix juga. 
Saat SMA ini saya mengikuti berbagai kegiatan, entah itu intra sekolah maupun ekstra sekolah. Di dalam lingkungan sekolah, saya mengikuti ekstrakurikuler IRMUS (ikatan remaja muslim) dan KIR (kegiatan ilmiah remaja). Menurut saya, selama saya menjadi anggota dan pengurus dua organisasi tersebut saya sudah memberikan yang terbaik dan berhasil mengharumkan nama sekolah melalui organisasi tersebut. Banyak perlombaan yang saya menangi, ntah itu dalam lingkup kota, hingga nasional. Di KIR GreenSAND Smasix saya pernah menjadi ketua umum organisasi tersebut. Saya juga berhasil mengikuti berbagai perlombaan yang sifatnya nasional hingga inovasi-inovasi acara yang saya laksakan pada saat kepengurusan saya. Karena organisasi ini juga saya bisa mengelilingi pulau Jawa, yang sebelumnya tidak pernah terpikir oleh saya bisa mendatangi kota-kota tersebut.
            Prestasi yang pernah saya torehkan antara lain Juara 1 AHM Best Student ke Kalselteng tahun 2014 dan menjadi perwakilan Kalselteng di tingkat nasional yang diadakan di Jakarta. Di Jakarta itulah saya mengenal teman-teman dari berbagai daerah, dari Sabang sampai Merauke. Saya sangat bersyukur bisa menjadi perwakilan Kalselteng dan berada disana, walau hanya beberapa hari namun ilmu dan pengalamannya luar biasa. Saya menjadi tau budaya-budaya di Indonesia, punya sahabat di daerah lain. Sampai detik ini pun kami masih saling berhubungan, berbagi kontak dan curhat-curhatan tentang banyak hal walau hanya bisa via sosial media. Semoga suatu hari nanti saya bisa ke daerah mereka dan merasakan atmosfer di sana (aamiin).
            Selain itu saya juga aktif di bidang penelitian, saya pernah lolos ke dalam 10 besar LKTI Nasional yang di adakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang dan Institut Sepuluh Nopember Surabaya. Berkat lomba-lomba tersebut juga saya akhirnya bisa keliling Surabaya dan Malang, menikmati atmosfer disana. Ah.. sungguh masa-masa yang indah.
            Oiya, bukan hanya kesempatan untuk pergi ke luar kota itu saja yang saya dapatkan, banyak hal-hal lain yang juga tak kalah pentingnya yang saya dapatkan. Salah satu yang paling luar biasa menurut saya adalah penelitian saya di daerah Mandastana, Botola, Kalsel, disana saya meneliti tentang sistem pertanian masyarakat transmigrasi dari pulau Jawa. Sistem pertanian yang menurut saya unik dan inovatif, cocok jika diterapkan di daerah-daerah lain. 
Bukan hanya informasi yang saya dapatkan tetapi juga dengan penelitian-penelitian tersebut saya bisa terjun langsung ke lapangan, berbaur dengan masyarakat yang berada di tempat saya melakukan penelitian itu. Berbicara, bercerita dan berbagi banyak hal. Hal yang menurut saya sangat berpengaruh untuk kehidupan saya dengan menjadi bagian dari masyarakat tersebut saya bisa melatih kemampuan saya untuk bersosialisasi dengan orang lain, saya menjadi lebih banyak bersyukur atas kehidupan yang saya terima, banyak di luar sana orang-orang yang tidak seberuntung kita. Intinya, empati saya sangat dibentuk dengan kegiatan penelitian-penelitian ini. Hal yang mungkin tidak akan saya dapatkan di dunia persekolahan. Pengalaman luar biasa yang akhirnya bisa mengubah sudut pandang saya terhadap sesuatu, membuat saya semakin dewasa, bukan lagi seorang ABG yang hanya sibuk memikirkan diri sendiri tanpa peduli dengan nasib orang lain diluar sana.
            Selain kegiatan penelitian, saya juga pernah terpilih menjadi Duta Ayo Ngaji Tiap Hari Kota Banjarmasin yang diadakan oleh Syaamil Qur’an Indonesia. Mendapatkan selempang dan dinobatkan sebagai duta bukanlah perkara yang mudah untuk saya, dengan adanya title tersebut saya harus bisa menjadi panutan yang baik, karena secara tidak langsung saya sudah menjadi titik pandang  orang lain. Tapi saya amat bersyukur karena dengan pengalaman ini juga saya bisa berbagi ilmu dengan banyak orang melalui sosialisasi-sosialisasi yang pernah saya lakukan.
            Mungkin itu dulu kisah masa SMA saya. Sekarang saya akan menceritakan tentang masa perkuliahan yang saat ini saya lalui. Dan pada akhirnya, ego menyelaraskan id dan superego.
            Setelah lulus SMA, saya kembali dihadapi dengan kebingungan memilih jurusan kuliah. Dulu saya sempat berkeinganan untuk kuliah di kedokteran, ilmu gizi hingga astronomi. Saya juga ‘hampir’ mengikuti seleksi masuk STAN, tapi karena terkendala oleh izin ummi dan baba akhirnya keinganan saya untuk mengambil jurusan perpajakan STAN gagal total J begitu juga halnya dengan kedokteran UNPAD. Gagal total J
            Hingga H-5 penutupan jalur SNMPTN, saya masih di titik kebingungan saya. Ini bukan perkara mudah, karena disini lah saya akan memulai dunia saya yang baru, saya tidak ingin salah pilih. Saya harus mempertimbangkan segala hal dengan matang dan pada akhirnya..... berkat satu ucapan ummi yang berbunyi “kenapa ga coba psikologi aja ima? Kan ima suka mengamati budaya, karakter orang dan suka dengerin curhatan oranglain?” JLEBB kalimat itu menjadi  energy booster  bagi saya untuk mencari tahu tentang apapun yang berhubungan dengan  psikologi. Ntah itu prospek kerjanya, mata kuliahnya nanti, tokoh-tokoh psikolog, sampai pada suatu hari saya mendapatkan rekomendasi novel psikologi dari teman saya yang berjudul Sybil. Hal itu semakin membuat saya penasaran dengan psikologi ini sebenarnya. Walaupun sempat mendapatkan pertentangan dari baba yang kekeh untuk menyekolahkan saya di jurusan yang berhubungan dengan ekonomi dan perpajakan, tetapi berkat doa seorang Ibu, hati baba lulus juga. Beliau akhirnya mengizinkan saya untuk memilih jurusan bebas sesuai dengan keinginan saya. Hingga akhirnya H-1 penutupan SNMPTN saya memilih yakin untuk memilih jurusan Psikologi UNLAM di pilihan pertama dan jurusan Kesehatan Masyarakat UNLAM di pilihan kedua.
            Dan Alhamdulillah, atas izin Allah saya berhasil lulus di jurusan Psikologi UNLAM dan hingga detik ini menjadi salah satu mahasiswinya. Yang awalnya saya ga punya bayangan yang pasti tentang psikologi, lambat laun akhirnya saya jatuh cinta dengan jurusan. Ntahlah.. saya kita hanya dengan belajar psikologi saya bisa memahami dan mengerti orang lain dengan cara berbeda dari orang biasa. Saya berharap kedepannya saya bisa menjadi sosok yang lebih baik lagi dengan berada di jurusan ini dan selalu mengasah potensi dan kemampuan saya. Dan pada akhirnya, ego, id, dan superego saling menyelaraskan.
            Selanjutnya, saya akan mendeskripsikan tentang kelebihan dan kekurangan yang saya miliki.
Pertama, saya akan mendeskripsikan tentang kekurangan saya terlebih dahulu. Menurut saya, saya ini termasuk orang boros, keras kepala, mageran (males gerak), moody, masih suka menunda-nunda pekerjaan terutama pekerjaan rumah dari dosen (hehehe maaf ya pak/bu) dan saya termasuk orang yang suka bicara blak-blakan, to the point, karena saya tidak suka kemunafikan ataupun hal yang bertele-tele (WIHH) . Jadi, saya lebih suka ngomong langsung ke orangnya. Namun, saya sadar dengan kekurangan dan sifat saya yang kurang baik tersebut. Kini saya belajar, bagaimana saya seharusnya berbicara dengan orang lain, mengerti pendapat dan argumen oranglain meskipun itu sangat bertentangan dengan pemikiran saya. Saya berusaha untuk meredakan emosi saya, saya tidak ingin kekurangan saya ini mengganggu kehidupan saya. Saya akan terus mencoba untuk memperbaiki diri, mengubah kekurangan saya menjadi sebuah kelebihan. Mengubah yang buruk menjadi baik. Dan pada akhirnya, id dikalahkan superego.
            Sedangkan kelebihan saya adalah saya mudah bergaul dan membuat relasi di lingkungan baru, mudah beradapsi, pendengar yang baik, menurut teman-teman saya saya termasuk lucu dan suka menghibur teman-teman saya. Oiya, menurut orang-orang yang kenal, mereka mengatakan bahwa saya punya kepedulian sosial yang tinggi. Saya pernah menjadi relawan di Yayasan Anak Bangsa Banjarmasin, biasanya saya mengajar anak-anak disana, dan setiap Jum’at sore biasanya saya pergi ke RSUD Ulin untuk membagikan kue dan susu untuk anak-anak penderita kanker :’)
            Saya sangat suka hal-hal yang berhubungan dengan anak-anak dan literasi. Dulu saat SMA juga suka sekali bergabung diberbagai komunitas, seperti HiLo Green Community, Earth Hour, Relawan Peduli Anak Kanker dll. Karena passion  saya itu jugalah pada Mei tahun lalu saya membuat sebuah project yang saya namai Lucky Paper Project dimana kegiatan ini berhubungan literasi dan minat baca anak-anak. Namun, karena dukungan teman-teman akhirnya pada awal tahun 2017 kemarin, saya mengubahnya menjadi sebuah komunitas yang saya beri nama “Komunitas Literasi Banua” visi misi nya masih sama. Hanya ruang lingkupnya saja yang ada pengembangan, yang dulunya hanya berfokus di Banjarmasin, sekarang sudah difokuskan di seluruh daerah di banua.
            Biasanya setiap minggu pagi, saya membuka lapak baca di Taman Kamboja Banjarmasin, CFD Murjani Banjarbaru dan CFD Kantor Gubernuran Kalsel. Berbagi canda tawa dengan anak-anak yang singgah di lapak Literasi Banua, mendongeng bersama mereka, maupun berbagi kisah dan mendengarkan cerita dari para orangtua tentang anaknya dan banyak sekali bahasan saya setiap minggu pagi bersama orang-orang yang mau mengikhlaskan jiwa raganya bersatu bersama buku. Saya tidak suka omong kosong, saya tidak suka berkata-kata untuk menjanjikan sesuatu. I don’t trust your words, I trust your actions. Itulah yang selalu saya cam kan pada orang-orang yang terlalu banyak bicara tapi tidak berbua apa-apa. Saya sedih dengan generasi sekarang, kebanyakan hanya bisa mengkritik, mencaci, menghina, tanpa memberikan perubahan yang lebih baik melalui aksi atau tindakan mereka.
            Dalam menjalani hidup ini, saya mempunyai moto yang selalu menjadi penyemangat saya dalam melakukan segala hal yaitu Khairunnas Anfa’uhum Linnas yang artinya “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”. Saya ingin bermanfaat bagi orang lain melalui apapun yang saya lakukan. Saya ingin menjadi pribadi yang bermanfaat. Bermanfaat bagi siapapun, yang saya kenal maupun tidak. Oleh karenanya saya mendirikan komunitas tersebut, menjadi relawan, mengikuti organisasi dan melakukan penelitian, karena saya ingin setiap kehadiran saya memberikan manfaat kepada oranglain.
            Mungkin itu saja yang dapat saya ceritakan di dalam essay SIAPA AKU ini..

Wassalamu’alaikum wr, wb.

Tidak ada komentar:

Surat #7

Teruntuk Kamu yang Telah Ia Datangkan, Hai, salam kenal. Semoga do'a-do'a kita di-amin-kan segera oleh penduduk langit. Sampai berju...